Kematian yang sepi

Yang aku lihat sekarang adalah telaga ini. Setelah kenangan tentang kamu berputar dalam pilinan waktu, aku seperti terlontarkan kembali ke diriku yang sesungguhnya. Sepi sendiri dan dijauhi ikan.
Setelah mengalami pusaran waktu kenangan tentang kamu, aku sedetik kembali ke kekinian di tepi telaga. Kenyataan kesendirian di tepi telaga dan pilinan pusaran badai kenangan itu menghentak menjadi depressan yang muncul dan memicu serangan.
Aku tersentak oleh serangan itu. Serangan ikan dan serangan dalam jantungku. Beberapa orang sempat kulihat menatap arahku yang tesentak-sentak memegang joran. Sepertinya itu ikan yang besar. Satu-satunya ikan yang mau memakan umpan kailku. Ikan terakhir. Dan ikan terakhirku ini mungkin tidak akan sempat aku tarik karena aku terlanjur tersungkur lalu menggelepar sendiri oleh serangan yang menguat dalam jantung. Pegangan tanganku terlepas dari joran pancing, dan ganti menyatu dengan tangan kiriku, meremas dada. Antara meremas jantung dan menggapai kekosongan tanganku seolah menari.
Sempat samar aku dengar Mimimu memanggil yayangnya, yang lihat bapak itu, kenapa dia.
Sepertinya mereka bergegas ke arahku dengan langkah kaki cepat. Mereka berdua mendekati tubuhku yang sedang tersentak serangan. Bayangan mereka samar. Masih sempat aku dengar teriakan-teriakan minta tolong dari mereka berdua. Suara-suara langkah kaki mendekat makin samar aku dengar. Dan aku seperti ingin mengatakan sesuatu kepada Mimimu yang paling dekat denganku. Bersimpuh di sebelah bahu kananku, tangan kirinya memegang dahiku dan tangan kanannya memegang telapak tanganku yang menggapai-gapai kekosongan. Telapak tangannya terasa hangat.
Aku ingin bicara tetapi lidahku seperti tertarik ke belakang. Tidak ada kata-kataku yang keluar.
Dahulu jantungku masih kuat mengalami terpilin antara sedih dan gembira setiap mengingatmu. Ia akan menghangat dan menjalarkan rasa hangat itu ke setiap akar kulitku. Kini tubuh ini menua lebih cepat. Ia makin tambun dan botak. Orang-orang mungkin melihatku sebagai kesuksesan dan kemakmuran. Aku mengalaminya sebagai siksaan yang menyengat kala serangan itu menguasa. Serangan yang datang lebih sering karena mengingatmu. Setahun ini serangan itu semakin kerap dan menusuk dalam meremas-remas jantung. Aku biasanya selalu membawa penawarnya. Hari ini aku lupa.
Mungkin inilah saatnya ia menyerah. Di tepi telaga ini. Mengingatmu kembali dalam pusaran waktu yang melesat ia seperti memilih menyerah. Barangkali tadi Tuhan membuatku lupa. Dan memilihkan untukku kematian yang aku inginkan. Sebuah kematian yang sepi.
Di detik terakhir ini aku akan tetap mensyukuri sebuah kematian yang syahdu. Kematianku. Kematian yang tidak akan dikenang. Kematian yang sederhana. Tanpa tangis kehilangan. Dan segera terlupakan. Setidaknya dengan kematian ini aku dapat melupakanmu.
Di detik terakhirku ini aku akan mengingatmu dengan sederhana. Tentang kebersamaan yang sederhana. Yang hangat. Hanya sedetik. Lalu biarlah gelap dan dingin memampat merenggutku. Aku juga ingin bibirku meninggalkan senyum terakhir. Tapi sudah berat rasanya menyuruhnya menarik sedikit saja senyum. Kalah oleh rasa sakit yang menusuk meremas memilin jantung. Mungkin aku memang tidak akan sempat tersenyum.
Tidak ada yang akan mengenaliku. Tidak juga Mimimu yang kini menyimpuh di samping tubuhku yang meregang. Di detik terakhir ini, meski ia memegang tanganku, matanya seperti menatap wajah asing yang tua dan keriput mendingin perlahan dengan bibir setengah tersenyum. Hatiku menghangat sesaat merasakan genggamannya yang lembut sebelum akhirnya menuju kegelapan yang sempurna.
Bersama dengan kegelapan yang menutupku, rintik hujan mulai menitik di permukaan telaga. Gemericik hujan di telaga itu memantulkan kerlip-kerlip gelembung air dari setiap titik hujan yang menyentuh wajahnya. Seperti hamparan intan menutup di atas permukaan telaga. Sesekali angin membawa hujan yang membesar.
Jiwaku menyaksikan ini seperti sebuah pertunjukan tirai air menari-nari tertiup angin. Bertabuh irama desau yang menegangkan. Dan seperti menyambut kedatangan jiwaku di alam raya, mereka menari-nari menyiul siulan bersahutan. Jiwakupun menari bersama alam raya sambil memandang tubuhku yang pasi.
Sebujur tubuh itu tanpa senyuman dengan tangannya dalam genggaman Mimimu. Dan sebagaimana Mimimu yang asing menatapku, jiwakupun seperti asing menatap tubuh itu.

penanda

di dalam perjalanan ke jogja ketika aku sebenarnya sudah agak lama lupa oleh ingatan akan kamu tiba tiba saja aku tersentak karena bersitatap dalam sekejap dengan sesorang yang sangat mirip dengan kamu. Dan aku hampir terjatuh ketika itu menaiki tangga di stasiun gambir. Mengejar rombongan yang akan berlibur bersama ke jogja. Aku hampir bertabrakan dengan bayanganmu itu
Setelah hampir sepuluh tahun aku mencoba menindas bayanganmu, dengan mencoba menikmati pernikahan yang tidak pernah nikmat dan mencoba tenggelam dalam karir eksekutif yang melenakan, tiba-tiba saja bayanganmu muncul nyata. Dan seolah memberi tanda kepadaku. Pertanda yang tidak aku sadari. —-sebenarnya pertanda kematian.
Pertanda itu tidak menguat, tertindas oleh keasyikanku berlibur bersama teman-teman lama, menikmati bergembira dalam menanam pohon penghijauan di merapi. Dulu aku tidak sempat menikmati saat-saat seperti ini. Aku terlalu malu untuk bergabung dalam aktivisme yang menghura seperti ini. Kini setelah aku tampak sukses dan memiliki jabatan yang penting di salah satu bumn, aku bahkan diberi kesempatan khusus untuk memberi sambutan dan menanam bersama sultan dan menteri.

di gambir

aku seperti melihatmu
waktu itu di gambir
ketika cahaya di garis rambut itu
membuatku hilang pandang
aku seperti melihatmu
hatiku mengembang pesat
cahayamu membayang di matanya lembut
seperti menghisap kesadaranku
 
ketika dunia kembali seperti semula
ia menghilang ditelan riuh yang menyesak
aku lalu kehilangan jejak
aku tersentak tanya
di manakah engkau kini

kencan romantis

Aku menunggumu di bangku pojok senja itu
Ditemani segelas ice manggo latte
Sepotong jamur krispi dan saos cabe
Telah kusiapkan sekuntum kembang merah yang kucomot dari tukang kembang dalam perjalanan ke sini
Angan-anganku sudah mengembara melukis bayangan-bayangan indah
Kencan romantis tak terlupakan abad ini

rapuh

Aku tidak sanggup menghentikan 
Cinta kecil yang mengikatku ini
Hatiku menyesak hanya dengan mengingat kamu
Mengembang pesat sekejap memukul dada
Lalu mengisut cepat ke pusat
Mengikat sakit tepat di jantung

Ia selalu mendekat kemana saja aku menjauh
Ia selalu datang kemana saja aku menghilang
Aku tak sanggup mengendalikannya
Aku tidak sanggup menahankannya
Ia berlari menghela jiwaku ke arahnya sendiri
Dan seolah-olah merayakan kemenangan
Setiap kali ia berkuasa, semakin ia membesar

Dan aku jatuh tersungkur 
Merapuh di hadapanmu

lukisan kusam di jendela

Hujan menetes melumuri kaca jendela
Dari jendela hatiku yang bahagia
Hujan dan mendung gelap tampak mengasyikkan kupandang
Di waktu lain saat hatiku gundah dan terlunta
Mentari senyum di pagi hari
Di atas bukit hijau penuh bunga
Nyanyi burung bersahutan
Seperti lukisan kusam membosankan

hati yang patah oleh duka

Aku mendengar lagu cinta
Dinyanyikan dengan penuh kemuraman
Suaranya menyayat hati
Aku yang sedang gembira
Tiba-tiba tersihir dalam nyanyiannya
Larut dalam kisah yang kusam
 
Oooo…hati yang patah oleh duka
Merataplah hingga tumpah seluruh serapah
Kabarkan pada dunia bahwa kaulah
Satu-satunya pemilik derita
 
Tetapi jangan pula kau tambah bersedih
Pabila mereka yang sedang mabuk oleh bahagia cinta
Memilih piknik ke cikole daripada mendengar lagumu
 
Ya… ketahuilah wahai hati yang patah oleh duka
Jalan derita adalah jalan sunyi
Yang harus kau tempuh sendiri

Pergilah kemana hatimu membawamu

Cinta itu melelahkan
Kemanapun aku menjauh
Ia selalu menyeretku kembali kepadamu
Begitu aku mendekat gerbangmu selalu saja terkunci
Sebuah prasasti terukir di pintunya
 
“Kas,
Pergilah ke mana hatimu membawamu
Meski aku memiliki rumah ini
Hatiku sudah pergi membawa kuncinya”

wujud kasihku

kekasihku bertanya seberapa dalam kasihku kepadanya
kekasihku bertanya seberapa luas kasihku kepadanya
aku hendak menjawab seluas samudra sedalam lautan
ah, itu terdengar klise sekali
kekasihku
kasihku kepadamu aku tebarkan setiap waktu
dimanapun kau berada
ah, tapi itu seperti kasih yang berjarak
kasihku kepadamu aku taburkan setiap pagi
sebelum aku pergi menjauh darimu
ah, tapi itu seperti kasih yang tanggung
kasihku kepadamu aku balurkan
ah, tapi itu seperti kasih yang mudah pudar
kasihku kepadamu aku pelukkan setiap malam kepadamu
menyatukan kulit kita tanpa jeda
ah, tapi itu seperti kasih yang tidak tetap
dapat lunglai setelah berlalunya malam
kasihku kepadamu aku pakaikan setiap waktu
melindungimu dari panas dan menghangatkanmu dari dingin
ah, tapi itu seperti kasih yang akan koyak seiring waktu
dimakan iri dengki
ah tapi itu seperti kasih yang akan robek seiring waktu
dimakan cemburu dan hasut
semula dianggap canda dan bumbu penyedap cinta
lalu tak terasa tumbuh jadi paku merobek-robek pakaian cinta
ah, lalu seperti apakah kasihku kepadamu
sesungguhnya kasihku kepadamu amatlah dekat
melekat di dalam jiwamu
tiada lagi aku
segalanya maujud menjadi satu
kekasihku
itulah wujud kasihku