yang dua menyatu

“Kas, mengapa kau tampak bersedih dengan pernikahan ini. Mengapa jiwamu tidak bahagia dengan pernikahan ini?” Tanya istriku di malam pernikahan itu.
Aku menatapnya dengan bimbang, takut ia akan menemukan bayang-bayang kekecewaan di dalam gelapnya mataku. Aku pura-pura menelusuri ujung-ujung rambutnya yang tergerai di punggung halusnya. Telapak tanganku yang kasap berhenti pada kulit lembut di lekukan pinggang rampingnya. Sambil mengelus perlahan merasakan kulitnya yang begitu muda, aku berbisik perlahan dekat ke cuping telinganya.
“Ndhuk, aku menyesal, mengapa tidak sedari dahulu aku menikahimu. Malahan terjebak dalam pusaran kabut fatamorgana yang membutakan.”
Aku tidak tahu bagaimana wajah Gendhuk mendengar bisikanku. Barangkali saat itu ia tersenyum mringis atau menahan tawa dengan perasaan yang menggembung penuh kebanggaan. Yang jelas tiba-tiba aku merasakan sakit cubitan di tepi punggungku yang setengah terbuka. Lalu aku merasakan pelukan yang makin erat.
“Aku tahu, Kas. Akan tiba saatnya kau menyadari perhatianku.” bisik lembutnya sembari mempererat pelukannya.
Aku membalas pelukannya dengan menciumi rambut-rambut halus di tengkuknya yang meremang. Tanganku makin nakal menelusuri garis punggungnya ke bawah sambil memberikan pijatan lembut.
Tubuhku dan tubuhnya perlahan saling membelit. Lalu yang semula dua perlahan menyatu.

Menikah dengan Gendhuk

Menikah dengan gendhuk.  Pada akhirnya.

“Mas, mengapa jiwamu tampak sedih, tidak bahagia dengan pernikahan ini?” Tanya istriku di malam pernikahan itu.

Yang kuingat sebenarnya kamu, kesedihan akan kehilangan yang masih membayang sejak sepuluh tahun lalu. Aku bukannya tidak bahagia menikah dengan dia.  Kebahagiaan itu ada dan membayang dalam kebahagiaan orang tuaku yang lega akhirnya anak terakhirnya menikah.

Pernikahan berlalu dengan biasa saja, selama sepuluh tahun. Sampai akhirnya ada waktunya ketika sudah mulai ingatan tentang kamu menempati ruang yang sempit saja meski tidak benar-benar terhapuskan. Tiba-tiba aku diingatkan kembali tentang kamu.  Di stasiun itu.

Tentang jodoh

Cita kecil menolak menikah terhadap pilihan yang ada dari orang tuanya, menolak tuntutan orang tuanya untuk cepat menikah

Sebuah adegan yang menyedihkan ketika orang tua- bapaknya yang renta dan mau meninggal membuat sebuah permintaan terakhir agar ia menikah sebelum bapaknya meninggal

Permintaan itu ditolak

Pintu masuk permintaan ini adalah melalui ibu, saudara, bibi pada beberapa kesempatan

Sesekali saat kumpul keluarga

Beberapa dialog dengan masing masing proses itu termasuk konsep pernikahan jodoh rejeki

Salah satunya adalah dialog tentang bahwa kalau makin tua menikah nanti anaknya bagaimana

Siapa yang akan memelihara dan menafkahi

Bersanding dengan dialog tentang menikah itu tidak perlu kuatir mengenai rejeki

Nanti akan datang sendiri, menikah itu membuat kaya

Sekaligus tuntutan untuk menikah dengan keluarga bahwa menikah itu tidak saja menikah dengan satu orang

Tapi dengan seluruh keluarganya juga

Ini saling bertentangan dengan kesederhanaan menikah dan desakan untuk cepat menikah

 

Aku tidak tahu yang mereka inginkan itu sebenarnya agar aku menikah cepat atau menikah sempurna.

Pada waktu itu di suatu hari, aku bahkan seperti sedang dalam sidang pengadilan, menjadi terdakwa tunggal dari perkara pidana yang besar, yang kitab hukumnya sudah pasti mendakwaku bersalah.  Paklik dan bulikku menjadi penuntut umum, budhe dan pakdheku dan kakak-kakakku menjadi saksi memberatkan. Ibu menjadi hakim ketua. Aku tidak punya saksi meringankan, tidak punya pembela.  Karena pembelaku satu-satunya, Bapak, lebih banyak diam.  Diam setuju atau diam menolak terhadap keputusanku, aku tidak bisa membedakan. “Terserah Kas” itu yang selalu diucapkannya sebagai jawaban ketika dimintai pertimbangan olehku maupun oleh yang lain.

Bahkan sampai meninggalnya Bapaknya.

Setiap hendak pergi

“Kas… “, Ibu memanggilku.

Aku diam tidak menyahut.

“Kass…. “, lagi Ibu memanggil.

Aku masih menunggu. Sekali lagi.

“Kaasss….. Kemana to bocah ini tadi. Jam ber….”

Sebelum selesai ibu melengkapi panggilan, aku muncul. Seolah-olah tergesa-gesa seperti terlambat dengan pura-pura gugup melihat jam dinding sambil menyongsong tangan ibu.

“Jam berapa kowe ki berangkatnya. Nanti telat lho…”

“Njih Bu, ini sudah mepet waktunya jalan. Pamit dulu, Bu. Nyuwun doa restu”.

Sambil mencium tangan Ibu dengan tunduk aku berpamitan.  Gendhuk yang sedari tadi mengawasi hanya mesam-mesem sudah hapal kelakuanku.

Siasatku berhasil.  Ibu tidak sempat tanya macam-macam lagi.  Seperti biasa sesampai di Jakarta besok paling Ibu akan menelponku, menanyakan apakah aku sudah sampai dengan selamat. Berkabar  satu dua dan barulah sesi interogasi akan dimulai lewat telpon. Dan aku akan lebih siap menjawab dan lebih leluasa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tanpa harus terlibat emosi membuncah jika harus bercakap dengan Ibu secara langsung.

“Saya juga pamit, Bu. Saya antar Kas ke stasiun.”

“Ya, ngati-ati, Ndhuk. Terima kasih sudah sudi mengantarkan Kas. Aku jadi nggak perlu repot.”

Aku dan Gendhuk melangkah keluar pintu.

Agak selangkah di luar pintu, Gendhuk sudah menjiwit lenganku sambil membisik.

“Nakal tenann…. “

Aku tidak mengaduh, hanya tersenyum kecut.  Bukan karena kata-kata Gendhuk. Tapi karena ingatan pembicaraan dia dengan Ibu tadi.  Di sepanjang jalan nanti aku harus menemukan kata-kata untuk menghilangkan kecutku. Apakah aku telah mempermainkan perasaan Gendhuk selama ini?

Pikiranku bercakap-cakap sendiri dengan angan-angannya, berkelahi kata dalam kepala.  Dan tak satupun kata yang keluar sebagai pemenang meluncur dari mulutku.  Maupun dari mulut Gendhuk.  Seperti sepasang bisu.  Mungkin ia menunggu pertanyaan.  Mungkin juga ia menunggu pernyataan.

Atau mungkin ia memang membiarkan aku memanjang angan sendiri.  Ia toh sebenarnya sudah tahu kebiasaanku, pura-pura sibuk mempersiapkan keberangkatan, padahal diam di balik pintu mendengarkan semua percakapannya dengan Ibu.

Mungkin percakapan tadi sengaja ditujukan kepadaku.  Sebuah pernyataan jelas dari Gendhuk tentang sikapnya terhadapku.