di gambir

aku seperti melihatmu
waktu itu di gambir
ketika cahaya di garis rambut itu
membuatku hilang pandang
aku seperti melihatmu
hatiku mengembang pesat
cahayamu membayang di matanya lembut
seperti menghisap kesadaranku
 
ketika dunia kembali seperti semula
ia menghilang ditelan riuh yang menyesak
aku lalu kehilangan jejak
aku tersentak tanya
di manakah engkau kini

kencan romantis

Aku menunggumu di bangku pojok senja itu
Ditemani segelas ice manggo latte
Sepotong jamur krispi dan saos cabe
Telah kusiapkan sekuntum kembang merah yang kucomot dari tukang kembang dalam perjalanan ke sini
Angan-anganku sudah mengembara melukis bayangan-bayangan indah
Kencan romantis tak terlupakan abad ini

rapuh

Aku tidak sanggup menghentikan 
Cinta kecil yang mengikatku ini
Hatiku menyesak hanya dengan mengingat kamu
Mengembang pesat sekejap memukul dada
Lalu mengisut cepat ke pusat
Mengikat sakit tepat di jantung

Ia selalu mendekat kemana saja aku menjauh
Ia selalu datang kemana saja aku menghilang
Aku tak sanggup mengendalikannya
Aku tidak sanggup menahankannya
Ia berlari menghela jiwaku ke arahnya sendiri
Dan seolah-olah merayakan kemenangan
Setiap kali ia berkuasa, semakin ia membesar

Dan aku jatuh tersungkur 
Merapuh di hadapanmu

lukisan kusam di jendela

Hujan menetes melumuri kaca jendela
Dari jendela hatiku yang bahagia
Hujan dan mendung gelap tampak mengasyikkan kupandang
Di waktu lain saat hatiku gundah dan terlunta
Mentari senyum di pagi hari
Di atas bukit hijau penuh bunga
Nyanyi burung bersahutan
Seperti lukisan kusam membosankan

hati yang patah oleh duka

Aku mendengar lagu cinta
Dinyanyikan dengan penuh kemuraman
Suaranya menyayat hati
Aku yang sedang gembira
Tiba-tiba tersihir dalam nyanyiannya
Larut dalam kisah yang kusam
 
Oooo…hati yang patah oleh duka
Merataplah hingga tumpah seluruh serapah
Kabarkan pada dunia bahwa kaulah
Satu-satunya pemilik derita
 
Tetapi jangan pula kau tambah bersedih
Pabila mereka yang sedang mabuk oleh bahagia cinta
Memilih piknik ke cikole daripada mendengar lagumu
 
Ya… ketahuilah wahai hati yang patah oleh duka
Jalan derita adalah jalan sunyi
Yang harus kau tempuh sendiri

Pergilah kemana hatimu membawamu

Cinta itu melelahkan
Kemanapun aku menjauh
Ia selalu menyeretku kembali kepadamu
Begitu aku mendekat gerbangmu selalu saja terkunci
Sebuah prasasti terukir di pintunya
 
“Kas,
Pergilah ke mana hatimu membawamu
Meski aku memiliki rumah ini
Hatiku sudah pergi membawa kuncinya”

wujud kasihku

kekasihku bertanya seberapa dalam kasihku kepadanya
kekasihku bertanya seberapa luas kasihku kepadanya
aku hendak menjawab seluas samudra sedalam lautan
ah, itu terdengar klise sekali
kekasihku
kasihku kepadamu aku tebarkan setiap waktu
dimanapun kau berada
ah, tapi itu seperti kasih yang berjarak
kasihku kepadamu aku taburkan setiap pagi
sebelum aku pergi menjauh darimu
ah, tapi itu seperti kasih yang tanggung
kasihku kepadamu aku balurkan
ah, tapi itu seperti kasih yang mudah pudar
kasihku kepadamu aku pelukkan setiap malam kepadamu
menyatukan kulit kita tanpa jeda
ah, tapi itu seperti kasih yang tidak tetap
dapat lunglai setelah berlalunya malam
kasihku kepadamu aku pakaikan setiap waktu
melindungimu dari panas dan menghangatkanmu dari dingin
ah, tapi itu seperti kasih yang akan koyak seiring waktu
dimakan iri dengki
ah tapi itu seperti kasih yang akan robek seiring waktu
dimakan cemburu dan hasut
semula dianggap canda dan bumbu penyedap cinta
lalu tak terasa tumbuh jadi paku merobek-robek pakaian cinta
ah, lalu seperti apakah kasihku kepadamu
sesungguhnya kasihku kepadamu amatlah dekat
melekat di dalam jiwamu
tiada lagi aku
segalanya maujud menjadi satu
kekasihku
itulah wujud kasihku

menua bersamamu

Pak, ijinkanlah aku menua bersama Gendhuk
Sebagai penanda betapa seriusnya permintaanku
Bersama ini kubawakan untuk Bapak seporsi sagon
Sebagai teman menikmati kopi item bikinan Gendhuk
 
Kas, aku paham maksudmu
Tapi karena yang kamu minta untuk menua bersamamu itu Gendhuk
Maka ada baiknya aku tanya dulu Gendhuk
Mau nggak dia menua bersamamu
 
Ndhuk, Gendukkk… Sini Ndhuk…
Dan kamu muncul dari balik tabir membawa senyum
Wonten dhawuh menapa, Pak?
Iki mau dibawain sagon, oleh-olehnya Kas
Tulung ini mbok sigar papat buat temen minum kopi di sini
Kamu membawa masuk sagon dan sebentar sudah kembali
Bersama sagon yang sudah disigar papat di atas lepek
Ketika kamu hendak kembali ke dalam
Bapakmu memintamu untuk tinggal
Ibumu dipanggilnya pula untuk bergabung
 
Dan aku makin berdebar
Jantungku mendegup tak terkendali
Aku sedikit paham maksud sagon disigar papat
Tapi aku tak berani memikirkannya lebih panjang
Hanya bersiap menghadapi setiap kata
Yang akan terucap dari Bapakmu
Atau Ibumu
 
Apapun yang akan terjadi aku siap, Ndhuk
Aku siap untuk menua bersamamu

teh mantan manten

Sudahkah kau ngeteh hari ini, Ndhuk
Di angkringan bawah pohon langganan kita 
Aku memilih menu teh mantan manten
Campuran teh tjathoet kuning dan teh tong tji
Teh sepet pahit dengan gula batu
Sepahit hidupku yang tak pernah menemukan cintanya 
Teh ini tidak ada wanginya juga
Hanya pahit dan sepet
Kutambahkan gula batu sekedar menghibur diri 
Sepahit apapun hidupku
Akan bertemu juga manisnya bersamamu