benih jiwamu

Ndhuk, kusisipkan benihku ini di dasar jiwamu yang hangat
Dan hanya kepada tuhanku aku berharap
Benih ini akan segera tumbuh mekar
Di dalam lindungan kebaikan
Yang ada di langit dan di bumi

Aku berharap benih ini akan tumbuh menjadi pohon yang baik
Akarnya kuat mengikat bumi
Pohonnya teguh daunnya rimbun meneduhi
Dan buahnya lebat bermusim-musim tetap dapat dipetik

Di berandamu

Harap-harap cemas duduk di berandamu, Ndhuk

Menunggu bapakmu keluar menemuiku

Aku sengaja duduk menghadap pintu

Membelakangi tembok hitam yang menakutkan

Aku takut kalau membelakangi pintu menghadap tembok hitam

Bapakmu akan menganggapku tidak tahu sopan santun

Dan aku pasti hanya makin gelisah ciut nyali menatap tembok hitam yang menghisap keberanianku

Aku sudah menata hati dan pikiranku sebelum berangkat ke sini

Memperkirakan setiap kemungkinan yang akan menimpa hati

Memperkirakan setiap jawaban atas setiap pertanyaan

Apapun yang akan terjadi malam ini aku siap

Ya, aku siap untukmu, Ndhuk

Segenap hati, pikiran, jiwa ragaku telah siap untukmu

 

Tapi nganu, minuman dan makanan yang kau suguhkan ini

Membuatku bertanya-tanya apakah ini penandamu

Teh hitam dan lumpia kau suguhkan untukku

Kopi item dan kentang potong kau suguhkan untuk bapakmu

Ah, apakah ini sinyal tentang arah pembicaraan bapakmu nanti

Apakah bapakmu akan berbicara yang pahit-pahit

Sepahit kopi item itu

Apakah bapakmu akan memotong-motong keberanianku

Menjadi serpihan kecil seperti kentang potong itu

Dan kau seperti biasa selalu menenangkanku

Teh hitam dalam gelas besar dan lumpia kesukaanku

Seolah pesanmu untukku

Santai saja, Kas. Nikmati ini seperti biasa. Be heppiiii selalu …

 

Hadehhhh…… asyemm tenan

Butir keringat kurasakan mulai tumbuh di tengkukku

Memikirkan suguhan di depanku ini

Aku malah makin cemas

Dan tidak berani menyentuhnya sedikitpun

Meski kau telah menyuruhku menikmatinya

“Kas, minum aja dulu tehmu. Dan nikmatilah lumpia  kesukaanmu. Gak usah nunggu bapak. Bapak masih shalat sunnah dan shalat istiikharah. Dzikirnya pasti lama.”

Aku malah makin cemas

Ndhuk, di manakah engkau kini

Ndhuk, di manakah engkau kini
Tiba-tiba aku teringat kepadamu
saat aku sedang sendiri mendengarkan petikan instrumentalia gitar dari kumpulan album guitarra cafe
Suara senar gitar yang jernih berdenting-denting seperti mencabik-cabik hatiku yang lengang
Lalu seperti terseret dalam arus rasa bersalah yang terpendam karena selama ini aku mengabaikanmu
Hatiku tersayat-sayat oleh tajamnya pisau duka yang mengiris perlahan
Rasa perih yang sangat di dalam dada tidak membutuhkan waktu lama
untuk menyesakkan ujung-ujung saraf mataku
lalu aku tersungkur bersama tangis yang tumpah tak dapat kutahankan
Bayangan-bayangan ketika engkau selalu berada di dekatku kemanapun aku melangkah
meskipun aku selalu mengabaikanmu
semakin menghunjamkan rasa bersalah di tengah dada

Ooohh…Ndhuk, di manakah engkau kini
Maafkanlah aku yang selama ini terhasut dalam kesumat cinta tiada ujung
Mengejar bayangan yang tak pernah maujud
Sedangkan engkau selalu di dekatku menaburkan cinta tanpa pernah kuminta
Ibuku selalu terpana dan memujamu ketika engkau di dekatku maupun ketika engkau jauh
Ibu selalu berusaha menunjukkan kepadaku
Sesungguhnya engkaulah yang selama ini kucari-cari kesana kemari

Ndhuk, di manakah engkau kini
Tengah malam telah lewat
Kokok ayam jago pertama telah terdengar sayup
Sajadah telah basah oleh air mata yang tumpah
Esok pagi bersamaan dengan sinar pertama mentari
Aku akan menuju pulang memenuhi panggilan ibuku
Sambil menemaninya memasak jangan lombok favoritku
Aku akan membantunya mengupas brambang memotong cabe
Setidaknya itu akan menyembunyikan sembab mataku
seolah-olah terkena perih uap kupasan brambang
dan akan kusampaikan kabar gembira keputusanku

huma tak berpenghuni

mengapa tak pernah kau ijinkan aku
sekedar memercikkan cahaya kecil
di beranda hatimu yang kian berjelaga
tertutup sawang laba-laba
bukankah hati tanpa cinta
serupa huma tak berpenghuni
ilalang meninggi
menyembunyikan keindahannya

pernikahan

Pernikahan itu terkadang seperti jual beli
Ada penjual ada pembeli ada barang
Harga cocok jadilah
Ya begitulah seperti saranmu waktu itu
Akhirnya aku menikah
Tentu saja dengan wanita cantik
Satu saja kekurangannya
Wanita cantik itu bukan kamu

Kas dan Gendhuk

“Kas,
Mengapa kau tidak pernah menikah
Padahal amat banyak cinta di sekitarmu
Yang kau berikan maupun kau terima
Tidakkah satupun gadis itu memikatmu”

 

“Ndhuk,
Aku sesungguhnya tidak ingin terus terjebak
Pada bayang-bayang dia yang kucintai
Dan terus berharap akan menemukan lagi cintanya
Kadangkala terbersit dalam pikiranku
Lebih baik kalau aku lewatkan itu semua
Lalu bergegas menyambutmu”

Gendhuk dan Ibu

“Kas itu lelaki yang baik, Ndhuk

Memang dia biasa saja

Hidupnya biasa

Orangnya biasa

Wajahnya biasa

Tetapi dia lelaki yang baik

Dan kamu sepertinya cocok dengannya

Apa lagi yang kalian tunggu”

“Aku memang menunggu Kas, Bu

Tapi sepertinya dia tidak pernah menujuku

Ia seperti berjalan ke arah yang lain

Semua penanda yang aku bunyikan

Tak pernah mendapatkan penala darinya

Aku sudah lelah menunggunya

Jadi mohon maaf, Bu

Aku sekarang memilih bukan Kas”

“Ya sudahlah, Ndhuk

Aku tahu memang sudah waktumu

Tidak mengapa kalau kamu memilih bukan Kas

Sekali waktu bawalah kemari calonmu

Kenalkan kepada kami

Kamu tahu

Kami sudah menganggapmu seperti anak sendiri”

Mereka tidak tahu

Aku sedang berdiri di balik pintu

Mendengarkan semua percakapan itu

Setiap ibu menyebut Ndhuk

Aku tidak mengingatnya

Aku mengingat kamu

Seolah-olah ibu sedang memanggilmu

Sepertinya aku harus berlama-lama

Bersembunyi di balik pintu

Kalau perlu menunggu ibu diserang kantuk

Dan waktu berangkat keretaku mendekat

Aku sudah membayangkan

Akan mendapat serangan seribu lidah dewa

Dari ibu

dan kadang bapak

Kalau aku cepat bergabung

Siasat berlama sembunyi ini biasanya selalu berhasil

Menghindarkan aku dari pertanyaan tentang kamu

Dari ibu. Kadang dari bapak. Kadang dari kakak

Kadang dari paklik. Kadang dari budhe

Pertanyaan itu dulunya menarik

Dan seperti penuh teka-teki

Aku menjawabnya dengan senyum dan belum

Biar semakin menyebar misteri

Tapi makin lama makin membosankan

Dan aku berhenti menjawabnya

Maksudku pertanyaan itu yang membosankan, bukan kamu

Kamu selalu menarik

dekat denganmu beda

hari ini aku dimarahi bosku

yang cantik lebih cantik dari kamu

tapi kelakuannya seperti nenek sihir

membuatku terkurung mantra

aku menunduk takluk tersiksa

di dekatnya hatiku panas dalam amarah

dan aku hanya bisa merutuk

menatap matanya bahkan aku jeri

 

dekat denganmu berbeda

aku takluk tunduk menguncup

serupa daun putri malu

sedikit tersentuh makin menguncup

aku selalu malu di dekatmu

malu yang hangat

Menunggu waktu tiba

Aku yakin sesungguhnya

Meskipun aku belum pernah bertemu denganmu

Tiada keraguan dalam jiwaku

Untuk menerima jiwamu sepenuhnya

Serupa dengan keyakinan buih

Menunggu waktunya tiba

Menyentuh butir-butir pasir di pantai

 

Akan tiba jua waktuku menemukanmu

Aku yakin Tuhan tahu

Menemukan cinta sejati itu sangatlah susah

Tetapi akan tiba jua waktumu menuju padaku

cincin kunci

Kas,

Betapapun bersiapnya aku

Terhadap semua kemungkinan hidup

Aku menyadari bahwa aku tidak akan pernah siap

Terhadap permintaanmu yang satu ini

Kas,

aku harus jujur kepadamu

selama ini dirimu hanyalah mengejar bayang-bayang

dan memperpanjang angan-angan

cinta kecilmu itu hanyalah tumbuh di dalam pikiranmu

Kas,

Aku tidak bisa memberikan

Apa yang kamu cari

Kas,

Aku hanya ingin kamu segera menikah

dengan perempuan yang bukan aku

aku sudah memiliki cincin kunci