yang dua menyatu

“Kas, mengapa kau tampak bersedih dengan pernikahan ini. Mengapa jiwamu tidak bahagia dengan pernikahan ini?” Tanya istriku di malam pernikahan itu.
Aku menatapnya dengan bimbang, takut ia akan menemukan bayang-bayang kekecewaan di dalam gelapnya mataku. Aku pura-pura menelusuri ujung-ujung rambutnya yang tergerai di punggung halusnya. Telapak tanganku yang kasap berhenti pada kulit lembut di lekukan pinggang rampingnya. Sambil mengelus perlahan merasakan kulitnya yang begitu muda, aku berbisik perlahan dekat ke cuping telinganya.
“Ndhuk, aku menyesal, mengapa tidak sedari dahulu aku menikahimu. Malahan terjebak dalam pusaran kabut fatamorgana yang membutakan.”
Aku tidak tahu bagaimana wajah Gendhuk mendengar bisikanku. Barangkali saat itu ia tersenyum mringis atau menahan tawa dengan perasaan yang menggembung penuh kebanggaan. Yang jelas tiba-tiba aku merasakan sakit cubitan di tepi punggungku yang setengah terbuka. Lalu aku merasakan pelukan yang makin erat.
“Aku tahu, Kas. Akan tiba saatnya kau menyadari perhatianku.” bisik lembutnya sembari mempererat pelukannya.
Aku membalas pelukannya dengan menciumi rambut-rambut halus di tengkuknya yang meremang. Tanganku makin nakal menelusuri garis punggungnya ke bawah sambil memberikan pijatan lembut.
Tubuhku dan tubuhnya perlahan saling membelit. Lalu yang semula dua perlahan menyatu.

menua bersamamu

Pak, ijinkanlah aku menua bersama Gendhuk
Sebagai penanda betapa seriusnya permintaanku
Bersama ini kubawakan untuk Bapak seporsi sagon
Sebagai teman menikmati kopi item bikinan Gendhuk
 
Kas, aku paham maksudmu
Tapi karena yang kamu minta untuk menua bersamamu itu Gendhuk
Maka ada baiknya aku tanya dulu Gendhuk
Mau nggak dia menua bersamamu
 
Ndhuk, Gendukkk… Sini Ndhuk…
Dan kamu muncul dari balik tabir membawa senyum
Wonten dhawuh menapa, Pak?
Iki mau dibawain sagon, oleh-olehnya Kas
Tulung ini mbok sigar papat buat temen minum kopi di sini
Kamu membawa masuk sagon dan sebentar sudah kembali
Bersama sagon yang sudah disigar papat di atas lepek
Ketika kamu hendak kembali ke dalam
Bapakmu memintamu untuk tinggal
Ibumu dipanggilnya pula untuk bergabung
 
Dan aku makin berdebar
Jantungku mendegup tak terkendali
Aku sedikit paham maksud sagon disigar papat
Tapi aku tak berani memikirkannya lebih panjang
Hanya bersiap menghadapi setiap kata
Yang akan terucap dari Bapakmu
Atau Ibumu
 
Apapun yang akan terjadi aku siap, Ndhuk
Aku siap untuk menua bersamamu

teh mantan manten

Sudahkah kau ngeteh hari ini, Ndhuk
Di angkringan bawah pohon langganan kita 
Aku memilih menu teh mantan manten
Campuran teh tjathoet kuning dan teh tong tji
Teh sepet pahit dengan gula batu
Sepahit hidupku yang tak pernah menemukan cintanya 
Teh ini tidak ada wanginya juga
Hanya pahit dan sepet
Kutambahkan gula batu sekedar menghibur diri 
Sepahit apapun hidupku
Akan bertemu juga manisnya bersamamu

benih jiwamu

Ndhuk, kusisipkan benihku ini di dasar jiwamu yang hangat
Dan hanya kepada tuhanku aku berharap
Benih ini akan segera tumbuh mekar
Di dalam lindungan kebaikan
Yang ada di langit dan di bumi

Aku berharap benih ini akan tumbuh menjadi pohon yang baik
Akarnya kuat mengikat bumi
Pohonnya teguh daunnya rimbun meneduhi
Dan buahnya lebat bermusim-musim tetap dapat dipetik

Di berandamu

Harap-harap cemas duduk di berandamu, Ndhuk

Menunggu bapakmu keluar menemuiku

Aku sengaja duduk menghadap pintu

Membelakangi tembok hitam yang menakutkan

Aku takut kalau membelakangi pintu menghadap tembok hitam

Bapakmu akan menganggapku tidak tahu sopan santun

Dan aku pasti hanya makin gelisah ciut nyali menatap tembok hitam yang menghisap keberanianku

Aku sudah menata hati dan pikiranku sebelum berangkat ke sini

Memperkirakan setiap kemungkinan yang akan menimpa hati

Memperkirakan setiap jawaban atas setiap pertanyaan

Apapun yang akan terjadi malam ini aku siap

Ya, aku siap untukmu, Ndhuk

Segenap hati, pikiran, jiwa ragaku telah siap untukmu

 

Tapi nganu, minuman dan makanan yang kau suguhkan ini

Membuatku bertanya-tanya apakah ini penandamu

Teh hitam dan lumpia kau suguhkan untukku

Kopi item dan kentang potong kau suguhkan untuk bapakmu

Ah, apakah ini sinyal tentang arah pembicaraan bapakmu nanti

Apakah bapakmu akan berbicara yang pahit-pahit

Sepahit kopi item itu

Apakah bapakmu akan memotong-motong keberanianku

Menjadi serpihan kecil seperti kentang potong itu

Dan kau seperti biasa selalu menenangkanku

Teh hitam dalam gelas besar dan lumpia kesukaanku

Seolah pesanmu untukku

Santai saja, Kas. Nikmati ini seperti biasa. Be heppiiii selalu …

 

Hadehhhh…… asyemm tenan

Butir keringat kurasakan mulai tumbuh di tengkukku

Memikirkan suguhan di depanku ini

Aku malah makin cemas

Dan tidak berani menyentuhnya sedikitpun

Meski kau telah menyuruhku menikmatinya

“Kas, minum aja dulu tehmu. Dan nikmatilah lumpia  kesukaanmu. Gak usah nunggu bapak. Bapak masih shalat sunnah dan shalat istiikharah. Dzikirnya pasti lama.”

Aku malah makin cemas

Ndhuk, di manakah engkau kini

Ndhuk, di manakah engkau kini
Tiba-tiba aku teringat kepadamu
saat aku sedang sendiri mendengarkan petikan instrumentalia gitar dari kumpulan album guitarra cafe
Suara senar gitar yang jernih berdenting-denting seperti mencabik-cabik hatiku yang lengang
Lalu seperti terseret dalam arus rasa bersalah yang terpendam karena selama ini aku mengabaikanmu
Hatiku tersayat-sayat oleh tajamnya pisau duka yang mengiris perlahan
Rasa perih yang sangat di dalam dada tidak membutuhkan waktu lama
untuk menyesakkan ujung-ujung saraf mataku
lalu aku tersungkur bersama tangis yang tumpah tak dapat kutahankan
Bayangan-bayangan ketika engkau selalu berada di dekatku kemanapun aku melangkah
meskipun aku selalu mengabaikanmu
semakin menghunjamkan rasa bersalah di tengah dada

Ooohh…Ndhuk, di manakah engkau kini
Maafkanlah aku yang selama ini terhasut dalam kesumat cinta tiada ujung
Mengejar bayangan yang tak pernah maujud
Sedangkan engkau selalu di dekatku menaburkan cinta tanpa pernah kuminta
Ibuku selalu terpana dan memujamu ketika engkau di dekatku maupun ketika engkau jauh
Ibu selalu berusaha menunjukkan kepadaku
Sesungguhnya engkaulah yang selama ini kucari-cari kesana kemari

Ndhuk, di manakah engkau kini
Tengah malam telah lewat
Kokok ayam jago pertama telah terdengar sayup
Sajadah telah basah oleh air mata yang tumpah
Esok pagi bersamaan dengan sinar pertama mentari
Aku akan menuju pulang memenuhi panggilan ibuku
Sambil menemaninya memasak jangan lombok favoritku
Aku akan membantunya mengupas brambang memotong cabe
Setidaknya itu akan menyembunyikan sembab mataku
seolah-olah terkena perih uap kupasan brambang
dan akan kusampaikan kabar gembira keputusanku

huma tak berpenghuni

mengapa tak pernah kau ijinkan aku
sekedar memercikkan cahaya kecil
di beranda hatimu yang kian berjelaga
tertutup sawang laba-laba
bukankah hati tanpa cinta
serupa huma tak berpenghuni
ilalang meninggi
menyembunyikan keindahannya

Menikah dengan Gendhuk

Menikah dengan gendhuk.  Pada akhirnya.

“Mas, mengapa jiwamu tampak sedih, tidak bahagia dengan pernikahan ini?” Tanya istriku di malam pernikahan itu.

Yang kuingat sebenarnya kamu, kesedihan akan kehilangan yang masih membayang sejak sepuluh tahun lalu. Aku bukannya tidak bahagia menikah dengan dia.  Kebahagiaan itu ada dan membayang dalam kebahagiaan orang tuaku yang lega akhirnya anak terakhirnya menikah.

Pernikahan berlalu dengan biasa saja, selama sepuluh tahun. Sampai akhirnya ada waktunya ketika sudah mulai ingatan tentang kamu menempati ruang yang sempit saja meski tidak benar-benar terhapuskan. Tiba-tiba aku diingatkan kembali tentang kamu.  Di stasiun itu.

pernikahan

Pernikahan itu terkadang seperti jual beli
Ada penjual ada pembeli ada barang
Harga cocok jadilah
Ya begitulah seperti saranmu waktu itu
Akhirnya aku menikah
Tentu saja dengan wanita cantik
Satu saja kekurangannya
Wanita cantik itu bukan kamu

Tentang jodoh

Cita kecil menolak menikah terhadap pilihan yang ada dari orang tuanya, menolak tuntutan orang tuanya untuk cepat menikah

Sebuah adegan yang menyedihkan ketika orang tua- bapaknya yang renta dan mau meninggal membuat sebuah permintaan terakhir agar ia menikah sebelum bapaknya meninggal

Permintaan itu ditolak

Pintu masuk permintaan ini adalah melalui ibu, saudara, bibi pada beberapa kesempatan

Sesekali saat kumpul keluarga

Beberapa dialog dengan masing masing proses itu termasuk konsep pernikahan jodoh rejeki

Salah satunya adalah dialog tentang bahwa kalau makin tua menikah nanti anaknya bagaimana

Siapa yang akan memelihara dan menafkahi

Bersanding dengan dialog tentang menikah itu tidak perlu kuatir mengenai rejeki

Nanti akan datang sendiri, menikah itu membuat kaya

Sekaligus tuntutan untuk menikah dengan keluarga bahwa menikah itu tidak saja menikah dengan satu orang

Tapi dengan seluruh keluarganya juga

Ini saling bertentangan dengan kesederhanaan menikah dan desakan untuk cepat menikah

 

Aku tidak tahu yang mereka inginkan itu sebenarnya agar aku menikah cepat atau menikah sempurna.

Pada waktu itu di suatu hari, aku bahkan seperti sedang dalam sidang pengadilan, menjadi terdakwa tunggal dari perkara pidana yang besar, yang kitab hukumnya sudah pasti mendakwaku bersalah.  Paklik dan bulikku menjadi penuntut umum, budhe dan pakdheku dan kakak-kakakku menjadi saksi memberatkan. Ibu menjadi hakim ketua. Aku tidak punya saksi meringankan, tidak punya pembela.  Karena pembelaku satu-satunya, Bapak, lebih banyak diam.  Diam setuju atau diam menolak terhadap keputusanku, aku tidak bisa membedakan. “Terserah Kas” itu yang selalu diucapkannya sebagai jawaban ketika dimintai pertimbangan olehku maupun oleh yang lain.

Bahkan sampai meninggalnya Bapaknya.