Menikah dengan gendhuk.  Pada akhirnya.

“Mas, mengapa jiwamu tampak sedih, tidak bahagia dengan pernikahan ini?” Tanya istriku di malam pernikahan itu.

Yang kuingat sebenarnya kamu, kesedihan akan kehilangan yang masih membayang sejak sepuluh tahun lalu. Aku bukannya tidak bahagia menikah dengan dia.  Kebahagiaan itu ada dan membayang dalam kebahagiaan orang tuaku yang lega akhirnya anak terakhirnya menikah.

Pernikahan berlalu dengan biasa saja, selama sepuluh tahun. Sampai akhirnya ada waktunya ketika sudah mulai ingatan tentang kamu menempati ruang yang sempit saja meski tidak benar-benar terhapuskan. Tiba-tiba aku diingatkan kembali tentang kamu.  Di stasiun itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *