“Kas… “, Ibu memanggilku.

Aku diam tidak menyahut.

“Kass…. “, lagi Ibu memanggil.

Aku masih menunggu. Sekali lagi.

“Kaasss….. Kemana to bocah ini tadi. Jam ber….”

Sebelum selesai ibu melengkapi panggilan, aku muncul. Seolah-olah tergesa-gesa seperti terlambat dengan pura-pura gugup melihat jam dinding sambil menyongsong tangan ibu.

“Jam berapa kowe ki berangkatnya. Nanti telat lho…”

“Njih Bu, ini sudah mepet waktunya jalan. Pamit dulu, Bu. Nyuwun doa restu”.

Sambil mencium tangan Ibu dengan tunduk aku berpamitan.  Gendhuk yang sedari tadi mengawasi hanya mesam-mesem sudah hapal kelakuanku.

Siasatku berhasil.  Ibu tidak sempat tanya macam-macam lagi.  Seperti biasa sesampai di Jakarta besok paling Ibu akan menelponku, menanyakan apakah aku sudah sampai dengan selamat. Berkabar  satu dua dan barulah sesi interogasi akan dimulai lewat telpon. Dan aku akan lebih siap menjawab dan lebih leluasa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tanpa harus terlibat emosi membuncah jika harus bercakap dengan Ibu secara langsung.

“Saya juga pamit, Bu. Saya antar Kas ke stasiun.”

“Ya, ngati-ati, Ndhuk. Terima kasih sudah sudi mengantarkan Kas. Aku jadi nggak perlu repot.”

Aku dan Gendhuk melangkah keluar pintu.

Agak selangkah di luar pintu, Gendhuk sudah menjiwit lenganku sambil membisik.

“Nakal tenann…. “

Aku tidak mengaduh, hanya tersenyum kecut.  Bukan karena kata-kata Gendhuk. Tapi karena ingatan pembicaraan dia dengan Ibu tadi.  Di sepanjang jalan nanti aku harus menemukan kata-kata untuk menghilangkan kecutku. Apakah aku telah mempermainkan perasaan Gendhuk selama ini?

Pikiranku bercakap-cakap sendiri dengan angan-angannya, berkelahi kata dalam kepala.  Dan tak satupun kata yang keluar sebagai pemenang meluncur dari mulutku.  Maupun dari mulut Gendhuk.  Seperti sepasang bisu.  Mungkin ia menunggu pertanyaan.  Mungkin juga ia menunggu pernyataan.

Atau mungkin ia memang membiarkan aku memanjang angan sendiri.  Ia toh sebenarnya sudah tahu kebiasaanku, pura-pura sibuk mempersiapkan keberangkatan, padahal diam di balik pintu mendengarkan semua percakapannya dengan Ibu.

Mungkin percakapan tadi sengaja ditujukan kepadaku.  Sebuah pernyataan jelas dari Gendhuk tentang sikapnya terhadapku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *