Cita kecil menolak menikah terhadap pilihan yang ada dari orang tuanya, menolak tuntutan orang tuanya untuk cepat menikah

Sebuah adegan yang menyedihkan ketika orang tua- bapaknya yang renta dan mau meninggal membuat sebuah permintaan terakhir agar ia menikah sebelum bapaknya meninggal

Permintaan itu ditolak

Pintu masuk permintaan ini adalah melalui ibu, saudara, bibi pada beberapa kesempatan

Sesekali saat kumpul keluarga

Beberapa dialog dengan masing masing proses itu termasuk konsep pernikahan jodoh rejeki

Salah satunya adalah dialog tentang bahwa kalau makin tua menikah nanti anaknya bagaimana

Siapa yang akan memelihara dan menafkahi

Bersanding dengan dialog tentang menikah itu tidak perlu kuatir mengenai rejeki

Nanti akan datang sendiri, menikah itu membuat kaya

Sekaligus tuntutan untuk menikah dengan keluarga bahwa menikah itu tidak saja menikah dengan satu orang

Tapi dengan seluruh keluarganya juga

Ini saling bertentangan dengan kesederhanaan menikah dan desakan untuk cepat menikah

 

Aku tidak tahu yang mereka inginkan itu sebenarnya agar aku menikah cepat atau menikah sempurna.

Pada waktu itu di suatu hari, aku bahkan seperti sedang dalam sidang pengadilan, menjadi terdakwa tunggal dari perkara pidana yang besar, yang kitab hukumnya sudah pasti mendakwaku bersalah.  Paklik dan bulikku menjadi penuntut umum, budhe dan pakdheku dan kakak-kakakku menjadi saksi memberatkan. Ibu menjadi hakim ketua. Aku tidak punya saksi meringankan, tidak punya pembela.  Karena pembelaku satu-satunya, Bapak, lebih banyak diam.  Diam setuju atau diam menolak terhadap keputusanku, aku tidak bisa membedakan. “Terserah Kas” itu yang selalu diucapkannya sebagai jawaban ketika dimintai pertimbangan olehku maupun oleh yang lain.

Bahkan sampai meninggalnya Bapaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *