“Kas, mengapa kau tampak bersedih dengan pernikahan ini. Mengapa jiwamu tidak bahagia dengan pernikahan ini?” Tanya istriku di malam pernikahan itu.
Aku menatapnya dengan bimbang, takut ia akan menemukan bayang-bayang kekecewaan di dalam gelapnya mataku. Aku pura-pura menelusuri ujung-ujung rambutnya yang tergerai di punggung halusnya. Telapak tanganku yang kasap berhenti pada kulit lembut di lekukan pinggang rampingnya. Sambil mengelus perlahan merasakan kulitnya yang begitu muda, aku berbisik perlahan dekat ke cuping telinganya.
“Ndhuk, aku menyesal, mengapa tidak sedari dahulu aku menikahimu. Malahan terjebak dalam pusaran kabut fatamorgana yang membutakan.”
Aku tidak tahu bagaimana wajah Gendhuk mendengar bisikanku. Barangkali saat itu ia tersenyum mringis atau menahan tawa dengan perasaan yang menggembung penuh kebanggaan. Yang jelas tiba-tiba aku merasakan sakit cubitan di tepi punggungku yang setengah terbuka. Lalu aku merasakan pelukan yang makin erat.
“Aku tahu, Kas. Akan tiba saatnya kau menyadari perhatianku.” bisik lembutnya sembari mempererat pelukannya.
Aku membalas pelukannya dengan menciumi rambut-rambut halus di tengkuknya yang meremang. Tanganku makin nakal menelusuri garis punggungnya ke bawah sambil memberikan pijatan lembut.
Tubuhku dan tubuhnya perlahan saling membelit. Lalu yang semula dua perlahan menyatu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *