Pak, ijinkanlah aku menua bersama Gendhuk
Sebagai penanda betapa seriusnya permintaanku
Bersama ini kubawakan untuk Bapak seporsi sagon
Sebagai teman menikmati kopi item bikinan Gendhuk
 
Kas, aku paham maksudmu
Tapi karena yang kamu minta untuk menua bersamamu itu Gendhuk
Maka ada baiknya aku tanya dulu Gendhuk
Mau nggak dia menua bersamamu
 
Ndhuk, Gendukkk… Sini Ndhuk…
Dan kamu muncul dari balik tabir membawa senyum
Wonten dhawuh menapa, Pak?
Iki mau dibawain sagon, oleh-olehnya Kas
Tulung ini mbok sigar papat buat temen minum kopi di sini
Kamu membawa masuk sagon dan sebentar sudah kembali
Bersama sagon yang sudah disigar papat di atas lepek
Ketika kamu hendak kembali ke dalam
Bapakmu memintamu untuk tinggal
Ibumu dipanggilnya pula untuk bergabung
 
Dan aku makin berdebar
Jantungku mendegup tak terkendali
Aku sedikit paham maksud sagon disigar papat
Tapi aku tak berani memikirkannya lebih panjang
Hanya bersiap menghadapi setiap kata
Yang akan terucap dari Bapakmu
Atau Ibumu
 
Apapun yang akan terjadi aku siap, Ndhuk
Aku siap untuk menua bersamamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *